Status Reproduksi Betina Kunci Penangkaran Badak Sumatra
[Hallo Bogor]

Status Reproduksi Betina Kunci Penangkaran Badak Sumatra

Bogor, Pelita
Kegagalan penangkaran Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) di Indonesia disebabkan oleh kurangnya informasi tentang status reproduksi badak betina dan rendahnya kualitas sperma badak jantan yang ada di Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Hingga saat ini belum ada yang tahu waktu yang tepat untuk menggabungkan badak jantan dan betina sehingga berujung pada perkelahian antara kedua badak yang seringkali berakhir pada kematian atau terlukanya salah satu badak, kata mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), drh Muhammad Agil, MSc.Agr dalam sidang promosi doktor dengan disertasi berjudul Reproduksi Biologi Badak Sumatra di kampus IPB, Bogor, Kamis.
Tim penguji dalam sidang tersebut terdiri atas Dr Bambang Purwantara, Prof Hadi S Alikodra, Prof J Keith Hodges dan Prof Mozes R Toelihere.
Keberhasilan penangkaran Badak Sumatra, kata dia, sangat tergantung pada siklus birahi betina karena jantan tidak mempunyai siklus tersebut.
Siklus oestrus atau siklus birahi badak betina hanya selama 23 hingga 24 hari. Pada saat itu, betina menunjukkan tanda-tanda ingin kawin, katanya.
Beberapa tanda yang bisa dilihat adalah perubahan warna pada alat kelamin luar, perubahan perilaku di mana badak betina mencari badak jantan serta perkembangan folikel yang bisa diketahui lewat tes ultrasonografi (USG).
Badak Sumatra tergolong hewan yang solid soliter karena habitatnya di hutan tropis dengan densitas tinggi dan home ring luas.
Untuk satu betina, home ring bisa mencapai luasan 10 hingga 40 kilometer persegi.
Dengan demikian, jika badak jantan dan betina disatukan bukan pada saat siklus reproduksi, yang terjadi justru keduanya berkelahi, dan seringkali badak betina yang mati, katanya.
Di Suaka Rhino Sumatra (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, kegagalan penangkaran juga disebabkan oleh rendahnya kualitas sperma badak jantan.
Untuk masalah ini kita sudah mendapat tambahan satu pejantan, Andalas, yang lahir di Cincinnati, AS dan dikirim ke Indonesia Februari lalu, kata Muhammad Agil yang juga Konsultan Veteriner SRS TNWK di Way Kambas, Lampung Timur.
Andalas merupakan satu-satunya Badak Sumatra yang dilahirkan dalam penangkaran pada 2001 lalu, setelah sejak era 1800-an program penangkaran tidak pernah membuahkan hasil.
Saat ini badak betina di Way Kambas mulai menunjukkan ketertarikan dengan Andalas. Namun Andalas sendiri diperkirakan baru siap untuk dikawinkan setidaknya pada akhir tahun, katanya.
Umur produktif Badak Sumatra mencapai 30 tahun, sedangkan rata-rata usianya bisa mencapai 35 tahun.
Masa kehamilan badak betina sekitar 475 hari dan dengan sampel feses tunggal, kehamilan badak bisa diketahui pada hari ke 60.
Ia mengatakan, penelitian yang dilakukannya ini diharapkan menghasilkan metode yang tepat untuk menentukan status reproduksi badak betina, mengetahui status kesuburan badak di penangkaran serta status kesuburan badak jantan.
Dengan demikian hasil penelitian ini akan mendukung perkembangbiakan Badak Sumatra di penangkaran, kata dia.
Saat ini populasi Badak Sumatra tinggal 300 ekor dengan tingkat penurunan populasi mencapai 50 persen dalam satu dekade terakhir. Jumlah Badak Sumatra di penangkaran hingga 2007 hanya tersisa sembilan ekor.
Dengan disertasinya tersebut, Muhammad Agil dinyatakan lulus sebagai doktor baru di lingkungan IPB. (ant/sal)

Mengenal Lebih Jauh Tentang BADAK
Indotoplist.com : Seperti halnya Dinosaurus yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, badak yang pada enam puluh juta tahun yang lalu ada 30 jenis yang hidup di bumi juga mengalami kepunahan. Pada saat ini hanya 5 jenis badak hidup di dunia diantaranya 3 jenis badak hidup di Asia, yaitu: Badak Sumatera (Sumatran rhino) bercula dua atau Dicerorhinus sumatrensis Fischer, Badak Jawa (Javan rhino) bercula satu atau Rhinocerus sondaicus Desmarest, Badak India (Indian rhino) bercula satu atau Rhinocerus unicornis Linnaeus.
Mengenal Lebih Jauh Tentang BADAK
SEJARAH BADAK

Badak muncul pada jaman tertier (± 65 juta tahun yang lalu) dan terdiri dari 5 periode :
Periode Paleocene ( ± 60 - 50 juta tahun yang lalu)
Periode Eocene (± 50 - 45 juta tahun yang lalu
Periode Oligocene (± 35 - 25 juta tahun yang lalu)
Periode Miocene (± 25 - 10 juta tahun yang lalu
Periode Pleocene (± 10 juta tahun yang lalu)

Seperti halnya Dinosaurus yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, badak yang pada enam puluh juta tahun yang lalu ada 30 jenis yang hidup di bumi juga mengalami kepunahan. Pada saat ini hanya 5 jenis badak hidup di dunia diantaranya 3 jenis badak hidup di Asia, yaitu:
  • Badak Sumatera (Sumatran rhino) bercula dua atau Dicerorhinus sumatrensis Fischer, 1814
  • Badak Jawa (Javan rhino) bercula satu atau Rhinocerus sondaicus Desmarest, 1822
  • Badak India (Indian rhino) bercula satu atau Rhinocerus unicornis Linnaeus, 1758
Dan 2 jenis badak hidup di Afrika, yaitu:
  1. Badak Hitam Afrika bercula cula (Black Rhino) atau Diceros bicormis
  2. Badak Putih Afrika bercula dua (White Rhino) atau Cerathoterium simum
Mengenal Lebih Jauh Tentang BADAK
KLASIFIKASI BADAK

Badak Jawa

Badak adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1758 Linnaeus telah memberi nama marga (genus) Rhinoceros kepada badak jawa. Secara taksonomi badak Jawa diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Super kelas : Gnatostomata
Kelas : Mammalia
Super ordo : Mesaxonia
Ordo : Perissodactyla
Super famili : Rhinocerotides
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Rhinoceros Linnaeus, 1758
Spesies : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Rhinoceros: berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti "hidung" dan ceros, berarti "cula" sondaicus: merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. (Bahasa Latin -icus mengindikasikan lokasi); "Sunda" berarti "Jawa"

Badak Sumatera

Badak Asia cula dua yang kemudian oleh Fischer (1814) diberi nama ilmiah Rhinoceros sumatrensis (sumatranus), dengan berbagai nama sinonim: Ceratorhinus sumatrensis (sumatranus), Didermocerus sumatrensis (sumatranus), Ceratorhinus crosii, Rhinoceros crosii, Ceratorhinus lasiotis, Ceratorhinus niger, Ceratorhinus blythii. Klasifikasi sub spesies dan penyebarannya dapat di bedakan menjadi:
  1. Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis (FISCHER 1814), dengan daerah penyebaran di Sumatra, Malaysia, dan Thailand.
  2. Dicerorhinus sumatrensis harrissoni (GROVES 1965), dengan daerah penyebaran di Borneo.
  3. Dicerorhinus sumatrensis lasiotis(BUCKLAND 1872), dengan daerah penyebarannya dari Burma bagian utara sampai dengan Assam dan Pakistan bagian timur.
Dicerorhinus: berasal dari bahasa Yunani yaitu di, berarti "dua"; cero, berarti "cula" dan rhinus, berarti "hidung" sumatrensis: merujuk pada Pulau Sumatra (ditambah akhiran ensis menurut bahasa Latin, berarti lokasi)

Mengenal Lebih Jauh Tentang BADAK
MORFOLOGI BADAK

Badak Jawa   
  • Tinggi dari telapak kaki hingga bahu berkisar antara 168-175 cm.
  • Panjang tubuh dari ujung moncong hingga ekor 392 cm dan panjang bagian kepala 70 cm.
  • Berat tubuhnya dapat mencapai 1.280 kg.
  • Tubuhnya tidak berambut kecuali dibagian telinga dan ekornya.
  • Tubuhnya dibungkus kulit yang tebalnya antara 25-30 mm.
  • kulit luarnya mempunyai corak yang mozaik.
  • Lipatan kulit di bawah leher hingga bagian atas berbatasan dengan bahu.
  • Di atas punggungnya juga terdapat lipatan kulit yang berbentuk sadel (pelana) dan ada lipatan lain di dekat ekor serta bagian atas kaki belakang.
  • Badak betina tidak mempunyai cula, Ukuran cula dapat mencapai 27 cm.
  • Warna cula abu-abu gelap atau hitam, warnanya semakin tua semakin gelap, pada pangkalnya lebih gelap dari pada ujungnya.
Mengenal Lebih Jauh Tentang BADAK
Badak Sumatera
  1. Badak Sumatera merupakan badak terkecil dan jenis yang paling primitif dari kelima jenis badak yang masih hidup di dunia.
  2. Tubuhnya ditumbuhi rambut yang berukuran pendek dan jarang, sehingga sering disebut fosil hidup atau badak primitif.
  3. Tinggi badak Sumatera diukur dari telapak kaki sampai bahu antara 120-135 cm, panjang dari mulut sampai pangkal ekor antara 240-270 cm.
  4. Berat tubuhnya dapat mencapai 909 kg.
  5. Tubuhnya gemuk dan agak bulat, kulitnya licin dan berambut jarang, menarik perhatian dengan adanya dua lipatan kulit yang besar.
  6. Lipatan pertama melingkari pada paha diantara kaki depan, dan lipatan kedua di atas abdomen dan bagian lateral.
  7. Di atas tubuhnya tidak ada lipatan, jadi lipatan kulit tampak nyata dekat kaki belakang dan lipatan bagian depan dekat kedua culanya.
  8. Cula bagian depan (anterior) di atas ujung dari moncongnya jauh lebih besar dari cula bagian belakang (pasterior).
  9. Cula belakang terletak di atas matanya dan sering kali hanya merupakan gumpalan yang tidak lebih besar ukurannya dari cula depan.
HABITAT BADAK

Habitat badak adalah hutan hujan dataran rendah dan rawa-rawa (tropical rainforest dan mountain moss forest), beberapa dijumpai pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut.

Badak Jawa
  1. Badak Jawa terdapat di daerah barat pulau Jawa tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon.
  2. Tempat-tempat yang rimbun dengan semak dan perdu yang rapat serta menghindari tempat-tempat yang terbuka, terutama pada siang hari.
  3. Hutan teduh dan rapat, seperti halnya formasi langkap disukai badak untuk bernaung dan berlindung dari kejaran manusia.
  4. Daerah jelajah untuk badak betina diperkirakan sekitar 10-20 km2 dan untuk badak jantan diperkirakan sekitar 30 km2.
Badak Sumatera
  1. Hidup pada daerah tergenang diatas permukaan laut sampai daerah pegunungan yang tinggi (dapat juga mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut).
  2. Tempat hidup yang penting bagi dirinya adalah cukup makanan, air, tempat berteduh dan lebih menyukai hutan lebat.
  3. Pada cuaca yang cerah sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun.     Senang makan di daerah hutan sekunder.
  4. Habitat badak Sumatera di Gunung Leuser, terbatas pada hutan-hutan primer pada ketinggian antara 1000-2000 meter diatas permukaan laut.

POPULASI BADAK
   
Badak Jawa

Di Indonesia, badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak Jawa tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa. Badak Jawa kini hanya terdapat di Ujung Kulon, Banten. Tahun 1833 masih ditemukan di Wonosobo, 1834 di Nusakambangan, 1866 di Telaga Warna, 1867 di Gunung Slamet, 1870 di Tangkuban Perahu, 1880 di sekitar Gunung Gede Pangrango, 1881 di Gunung Papandayan, 1897 di Gunung Ceremai dan pada tahun 1912 masih dijumpai di sekitar daerah Kerawang. Frank pada tahun 1934 telah menembak seekor badak Jawa jantan dari Karangnunggal di Tasikmalaya, sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor. Menurut catatan merupakan individu terakhir yang dijumpai di luar daerah Ujung Kulon.

Pada tahun 1910 badak Jawa sebagai binatang liar secara resmi telah dilindungi Undang-Undang oleh Pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1921 berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, Ujung Kulon oleh pemerintah dinyatakan sebagai Cagar Alam. Keadaan ini masih berlangsung terus sampai status Ujung Kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa di bawah pengelolaan Jawatan Kehutanan dan Taman Nasional pada tahun 1982.

Di Ujung Kulon populasi badak pada tahun 1937 ditaksir ada 25 ekor (10 jantan dan 15 betina), dan pada tahun 1955 ada sekitar 30-35 ekor. Pada tahun 1967 di Ujung Kulon pertama kalinya diadakan sensus badak Jawa yang menyebutkan populasinya ada 21-28 ekor.

Turun naiknya populasi badak selain adanya kelahiran anak, juga dipengaruhi oleh adanya perburuan. Setelah pengawasan yang ketat terhadap tempat hidup badak, populasi badak Jawa terus meningkat hingga kira-kira 45 ekor pada tahun 1975.

Populasi badak Jawa menurut hasil sensus sampai tahun 1989 diperkirakan tinggal 52-62 ekor. Sensus pada Nopember 1999 yang dilaksanakan ole TNUK dan WWF diperkirakan 47 - 53 ekor.

Sensus populasi badak Jawa yang dilaksanakan oleh Balai TNUK, WWF - IP dan YMR pada tahun 2001 memperkirakan jumlah populasi badak berkisar antara 50 - 60 ekor. Sensus terakhir yang dilaksanakan Balai TNUK tahun 2006 diperkirakan kisaran jumlah populasi badak Jawa adalah 20 - 27 ekor.


Badak Sumatera

Berdasarkan Analisa Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA) Badak Sumatera tahun 1993, populasi badak Sumatera di Sumatra berkisar antara 215 -319 ekor atau turun sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebelumnya populasi badak Sumatera di pulau Sumatera berkisar antar 400-700 ekor. Sebagian besar terdapat di wilayah Gunung Kerinci Seblat (250-500 ekor), Gunung Leuser (130-250 ekor) dan Bukit Barisan Selatan (25-60 ekor). Sebagian yang lainnya tidak diketahui jumlahnya terdapat di wilayah Gunung Patah, Gunung Abong-Abong, Lesten-Lokop, Torgamba dan Berbak.

Di Kalimantan satu kelompok populasi tersebar di wilayah Serawak, Sabah dan wilayah tengah Kalimantan. Di Malaysia jumlah populasi badak Sumatera diperkirakan berkisar antara 67-109 ekor.

Menurut IUCN/SSC - African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi badak Sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatra dan Borneo yaitu Malaya/Sumatra Sumatran Rhino ~ 250 ekor dan Borneo Sumatran Rhino ~ 50 ekor.

Taksiran jumlah populasi badak Sumatera menurut Program Konservasi Badak Indonesia tahun 2001 di wilayah kerja RPU adalah sebagai berikut: TNKS 5 - 7 ekor dengan kerapatan (density) 2500 - 3500 ha per ekor badak, TNBBS 60 - 85 dengan kerapatan 850 - 1200 ha per ekor badak, TNWK 30 - 40 ekor dengan kerapatan 700 - 1000 ha per ekor badak.

Observasi Lapangan tahun 1997 s/d 2004, RPU - PKBI memperkirakan jumlah populasi badak Sumatera di TNBBS berkisar antara 60 - 85 ekor. Sementara di TNWK berkisar antara 15 - 25 ekor.

Data RPU Yayasan Leuser tahun 2004 (dalam Outline Strategi Konservasi Badak Indonesia 2005) menunjukkan jumlah populasi badak Sumatera di lokasi survey RPU berkisar antara 60 - 80 ekor.

(Selengkapnya silahkan kunjungi http://www.badak.or.id)



Sumber : Yayasan Badak Indonesia (YABI) www.badak.or.id

Gunung Honje Jadi Pusat Pembiakan Badak Jawa
Selasa, 23 Februari 2010 | 11:17 WIB
PANDEGLANG, KOMPAS.com — Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) akan mengembangkan penangkaran badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di blok Gunung Honje seluas 3.000 hektar tahun 2011 dan dipastikan tahun 2015 sudah memiliki keturunan, kata pejabat TNUK.

"Penangkaran badak jawa itu akan dijadikan taman marga satwa dunia (TMSD) dan bisa mendongkrak pengunjung domestik maupun mancanegara," kata Kepala Bagian Humas TNUK Enjat Sudrajat, Selasa (23/2/2010).

Ia mengatakan, penangkaran ini bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dunia juga akan membantu, seperti dari Executive Director International Rhino Foundation Susie Eliis, Kimsei Vier (Tulsa Zoo), dan Ruchweet (Miami). Mereka akan membantu penangkaran pengembangbiakan badak bercula satu yang langka di dunia itu.

Saat ini, kata dia, diperkirakan populasi badak jawa di TNUK lebih kurang hanya 60 ekor. "Dengan penangkaran ini diharapkan jumlah populasi badak bercula satu bertambah," katanya.

Selama ini, kata dia, habitat populasi badak jawa berada di lahan seluas 38.000 hektar kawasan TNUK, termasuk Gunung Honje. "Saya kira bila di lokasi Gunung Honje tentu sangat cocok selain tersedia pakannya, juga lokasi tidak berjauhan," katanya.

Menurut dia, dengan upaya pelestarian badak jawa ini, diharapkan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang harus mendukung karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Apalagi, kata dia, satwa badak jawa sudah dijadikan maskot Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Pengembangbiakan satwa langka di dunia ini melibatkan sejumlah peneliti dari beberapa negara untuk mengadakan konservasi di habitatnya di kawasan hutan TNUK, katanya. Bahkan, para donatur dari Amerika Serikat sudah siap memberikan bantuan untuk penangkaran pengembangbiakan badak jawa itu di TNUK.

Bantuan tersebut dipergunakan untuk biaya operasional konservasi, monitoring, serta perlindungan badak. "Saya kira diperkirakan biaya penelitian ini memakan biaya cukup besar," katanya.

Selama ini, kata Enjat, di dunia peneliti genetik badak masih sangat kecil, apalagi satwa itu pemalu dan sulit ditemukan di habitatnya. Oleh karena itu, pihaknya harus hati-hati dengan program penelitian karena saat ini populasi badak jawa di TNUK hanya 60 ekor.

"Jika penangkaran itu berhasil, tentu pengunjung bisa melihat langsung kehidupan badak sebab saat ini warga belum mengetahui keberadaan badak jawa itu," kata Enjat Sudrajat.

Sekretaris Yayasan Badak Indonesia Agus Darmawan mengaku optimististis penangkaran pengembangbiakan akan suskes dan terwujud tahun 2011 karena melibatkan tim peneliti yang mengetahui persis karakteristik badak. Saat ini, lanjut dia, populasi badak yang ada di dunia sebanyak lima spesies, yakni badak hitam (Diceros bicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak india (Rhinoceros unicornis), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus).

Mengenal Badak di habitatnya

26 01 2009

Negeri kita “memiliki” dua jenis badak dari 5 jenis badak yang ada di dunia saat ini. Kedua jenis badak tersebut adalah Badak Jawa (Javan rhino, Rhinocerus sondaicus) bercula satu (Desmarest, 1822), dan Badak Sumatera (Sumatran rhino, Dicerorhinus sumatrensis ) bercula dua (Fischer, 1814). Keduanya masih dapat kita temukan di tanah air pada habitatnya masing-masing. Badak Jawa terdapat di daerah barat pulau Jawa tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon. Sedangkan badak Sumatera terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan dan di hutan-hutan Indochina.

Di Lampung, tepatnya di Taman Nasional Way Kambas, terdapat Suaka Badak Sumatera (dikenal dengan nama SRS). Di TNWK kita bisa saksikan langsung kehidupan badak sehari-hari di suatu area suaka yang terbatas. Beberapa badak yang terdapat disana mempunyai nama: Rosa, Bina, Andalas, Ratu dan Torgamba.

Rekaman film singkat dari Torgamba dan Rosa dapat dilihat pada: Berita dari Suaka Badak Sumatera (sila klik disini)yang merupakan hasil rekaman dari salah satu anggota FBI (Forum Badak Indonesia), mas Koen Setyawan

Badak Indonesia adalah Badak Jawa dan Badak Sumatera. Dua jenis Badak dari lima jenis yang ada di dunia saat ini. 60 juta tahun lalu terdapat sekitar 30 jenis badak yang menyebar di seantero bumi ini.

Badak Jawa (Javan rhino, Rhinocerus sondaicus) bercula satu (Desmarest, 1822), sedangkan Badak Sumatera (Sumatran rhino, Dicerorhinus sumatrensis ) bercula dua (Fischer, 1814).

Beberapa hal yang menarik untuk diketahui dari kedua jenis ini:

Badak Jawa Badak Sumatera
Badak Jawa
Javan rhino, courtesy of WWF – I
Badak Sumatera
Sumatran rhino, courtesy of Tamie A. Ganie
Klasifikasi
Badak adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1758 Linnaeus telah memberi nama marga (genus) Rhinoceros sondaicus kepada badak Jawa.

Rhinoceros: berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti “hidung” dan ceros, berarti “cula” , sondaicus merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. (Bahasa Latin -icus mengindikasikan lokasi); “Sunda” berarti “Jawa”.

Badak Asia cula dua yang kemudian oleh Fischer (1814) diberi nama ilmiah Rhinoceros sumatrensis (sumatranus), dengan berbagai nama sinonim: Ceratorhinus sumatrensis (sumatranus), Didermocerus sumatrensis (sumatranus), Ceratorhinus crosii, Rhinoceros crosii, Ceratorhinus lasiotis, Ceratorhinus niger, Ceratorhinus blythii.

Dicerorhinus: berasal dari bahasa Yunani yaitu di, berarti “dua”; cero, berarti “cula” dan rhinus, berarti “hidung” sumatrensis: merujuk pada Pulau Sumatra (ditambah akhiran ensis menurut bahasa Latin, berarti lokasi).

Morfologi
Tinggi dari telapak kaki hingga bahu berkisar antara 168-175 cm. Panjang tubuh dari ujung moncong hingga ekor 392 cm dan panjang bagian kepala 70 cm. Berat tubuhnya dapat mencapai 1.280 kg. Tubuhnya tidak berambut kecuali dibagian telinga dan ekornya. Tubuhnya dibungkus kulit yang tebalnya antara 25-30 mm. Kulit luarnya mempunyai corak yang mozaik. Lipatan kulit di bawah leher hingga bagian atas berbatasan dengan bahu. Di atas punggungnya juga terdapat lipatan kulit yang berbentuk sadel (pelana) dan ada lipatan lain di dekat ekor serta bagian atas kaki belakang. Badak betina tidak mempunyai cula, Ukuran cula dapat mencapai 27 cm. Warna cula abu-abu gelap atau hitam, warnanya semakin tua semakin gelap, pada pangkalnya lebih gelap dari pada ujungnya. Badak Sumatera merupakan badak terkecil dan jenis yang paling primitif dari kelima jenis badak yang masih hidup di dunia. Tubuhnya ditumbuhi rambut yang berukuran pendek dan jarang, sehingga sering disebut fosil hidup atau badak primitif. Tinggi badak Sumatera diukur dari telapak kaki sampai bahu antara 120-135 cm, panjang dari mulut sampai pangkal ekor antara 240-270 cm. Berat tubuhnya dapat mencapai 909 kg. Tubuhnya gemuk dan agak bulat, kulitnya licin dan berambut jarang, menarik perhatian dengan adanya dua lipatan kulit yang besar. Lipatan pertama melingkari pada paha diantara kaki depan, dan lipatan kedua di atas abdomen dan bagian lateral. Di atas tubuhnya tidak ada lipatan, jadi lipatan kulit tampak nyata dekat kaki belakang dan lipatan bagian depan dekat kedua culanya. Cula bagian depan (anterior) di atas ujung dari moncongnya jauh lebih besar dari cula bagian belakang (pasterior). Cula belakang terletak di atas matanya dan sering kali hanya merupakan gumpalan yang tidak lebih besar ukurannya dari cula depan.
Habitat
Badak Jawa terdapat di daerah barat pulau Jawa tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon. tempat-tempat yang rimbun dengan semak dan perdu yang rapat serta menghindari tempat-tempat yang terbuka, terutama pada siang hari. Hutan teduh dan rapat, seperti halnya formasi langkap disukai badak untuk bernaung dan berlindung dari kejaran manusia. Daerah jelajah untuk badak betina diperkirakan sekitar 10-20 km2 dan untuk badak jantan diperkirakan sekitar 30 km2. Hidup pada daerah tergenang diatas permukaan laut sampai daerah pegunungan yang tinggi (dapat juga mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut). Tempat hidup yang penting bagi dirinya adalah cukup makanan, air, tempat berteduh dan lebih menyukai hutan lebat. Pada cuaca yang cerah sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun. Senang makan di daerah hutan sekunder.Habitat badak Sumatera di Gunung Leuser, terbatas pada hutan-hutan primer pada ketinggian antara 1000-2000 meter diatas permukaan laut.
Populasi
Di Ujung Kulon populasi badak pada tahun 1937 ditaksir ada 25 ekor (10 jantan dan 15 betina), dan pada tahun 1955 ada sekitar 30-35 ekor. Pada tahun 1967 di Ujung Kulon pertama kalinya diadakan sensus badak Jawa yang menyebutkan populasinya ada 21-28 ekor. Turun naiknya populasi badak selain adanya kelahiran anak, juga dipengaruhi oleh adanya perburuan. Setelah pengawasan yang ketat terhadap tempat hidup badak, populasi badak Jawa terus meningkat hingga kira-kira 45 ekor pada tahun 1975. Populasi badak Jawa menurut hasil sensus sampai tahun 1989 diperkirakan tinggal 52-62 ekor. Sensus pada Nopember 1999 yang dilaksanakan oleh TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon) dan WWF diperkirakan 47 – 53 ekor. Sensus populasi badak Jawa yang dilaksanakan oleh Balai TNUK, WWF – IP dan YMR pada tahun 2001 memperkirakan jumlah populasi badak berkisar antara 50 – 60 ekor. Sensus terakhir yang dilaksanakan Balai TNUK tahun 2006 diperkirakan kisaran jumlah populasi badak Jawa adalah 20 – 27 ekor. Menurut IUCN/SSC – African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi badak Sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatra dan Borneo yaitu Malaya/Sumatra Sumatran Rhino ~ 250 ekor dan Borneo Sumatran Rhino ~ 50 ekor. Taksiran jumlah populasi badak Sumatera menurut Program Konservasi Badak Indonesia tahun 2001 di wilayah kerja RPU adalah sebagai berikut: TNKS 5 – 7 ekor dengan kerapatan (density) 2500 – 3500 ha per ekor badak, TNBBS 60 – 85 dengan kerapatan 850 – 1200 ha per ekor badak, TNWK 30 – 40 ekor dengan kerapatan 700 – 1000 ha per ekor badak. Observasi Lapangan tahun 1997 s/d 2004, RPU – PKBI memperkirakan jumlah populasi badak Sumatera di TNBBS berkisar antara 60 – 85 ekor. Sementara di TNWK berkisar antara 15 – 25 ekor.

—–
TNBBS: Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
TNWK: Taman Nasional Way Kambas
TNKS: Taman Nasional Kerinci Seblat



Disarikan dari situs web Yayasan Badak Indonesia (www.badak.or.id)

Badak pada Zaman Purba

Badak Purba merupakan satwa/hewan hasil evolusi antara jenis Kuda dan
Tapir Purba. Yang dimaksud dengan evolusi adalah perubahan bentuk rupa dan sifat
sesuatu jenis mahluk di alam sebagai upaya adaptasi (penyesuaian diri) dengan
perubahan kondisi dan situasi tempat hidupnya. Ketiga jenis binatang purba tersebut
merupakan keluarga satwa berkuku ganjil (Perissodactylae) dan Famili
Perissodactylae tercatat telah hidup sekitar 54 juta tahun yang lalu. Keturunan
keluarga Perissodactylae ini sekarang memiliki tiga famili yaitu Equidae (kuda),
Tapiridae (Tapir) dan Rhinocerotidae (badak). Ketiga famili ini bukan keluarga besar,
dimana Equidae hanya memiliki 7 (tujuh) jenis kuda, Tapiridae memiliki 4 (empat)
jenis tapir dan Rhinocerotidae memiliki 5 (lima) jenis badak. Dua diantara dari kelima
jenis badak tersebut hidup di Indonesia, yaitu Badak Sumatera dan Badak Jawa.
1. Hyrachius Primitive rhinoceros
Pada awal Jaman Eocene muncul badak purba pertama yang disebut
Hyrachius atau sebutan ilmiahnya Primitive rhinoceros. Hyrachius besarnya
hanya seukuran anjing besar dan bentuk-rupanya mirip kuda namun ujung
hidungnya mirip tapir dan ada tonjolan kecil diatasnya.
Penyebutan nama Rhino ini berasal
dari bahasa Yunani yang berarti
hidung, sedangkan ceros berarti cula
dan horn yang berarti tanduk. Sejak
jaman Eocene ini, keluarga badak
menjadi hewan mamalia yang paling
luas penyebarannya di muka bumi
ini.
Gambar 2. Hyrachius (Primitive rhinoceros).
2. Teleoceros Short-legged rhinoceros.
Pada peralihan jaman Eocene ke jaman Oligocene, yaitu antara 30-40 juta
tahun SM, muncul badak purba kedua yang bernama Teleoceros atau disebut juga
Short-legged rhinoceros. Teleoceros memiliki kaki yang pendek dan gempal,
berbadan besar dan bercula lebih jelas, sehingga mirip badak jaman sekarang.
4
Gambar 3. Teleoceros (Short-legged rhinoceros)
3. Paraceratherium Giant-giraffe rhinoceros.
Pada jaman Oligocene yaitu 30 juta tahun SM, muncul badak purba ketiga
yang bernama Paraceratherium atau disebut juga Giant-giraffe rhinoceros.
Jenis badak purba ini memiliki
kepala mirip tapir tetapi memiliki
badan dan ekor seperti kuda.
Paraceratherium ini merupakan
jenis mamalia darat terbesar yang
pernah hidup di planet bumi.
Tingginya mencapai 6 (enam)
meter dan memiliki berat badan
mencapai 20.000 kg (20 ton)
setara dengan berat 4 (empat)
ekor gajah terbesar Afrika.
Gambar 4. Paraceratherium (Giant-giraffe rhinoceros).
Fosil badak ini ditemukan di Amerika Utara. Yang dimaksud dengan fosil adalah
bagian-bagian tulang kerangka suatu jenis hewan yang membatu dan biasanya
terkubur dalam tanah selama berjuta tahun.
Pada jaman Miocene yaitu antara 10-20 juta tahun SM, munculah secara
berturut-turut 7 (tujuh) jenis badak purba berikutnya. Awal jaman Miocene muncul 2
(dua) jenis badak purba, yaitu :
5
4. Juxia (Slender rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang
bernama Juxia atau disebut juga
Slender rhinoceros, yang memiliki
bentuk tubuh mirip kuda, tidak
memiliki cula dengan besar tubuh
seperti gajah. Badak ini merupakan
badak purba yang muncul keempat.
Gambar 5. Juxia (Slender rhinoceros).
5. Meninatherium (Longnosed rhinoceros).
Berikutnya muncul badak purba
yang kelima yang bernama
Meninatherium atau disebut juga
Longnosed rhinoceros. Jenis
badak ini mempunyai hidung yang
panjang (makanya disebut
longnosed), bercula satu dan
memiliki ukuran badan seperti
Badak Putih Afrika sekarang.
Gambar 6. Meninatherium (Longnosed rhinoceros).
Pertengahan jaman Miocene, muncul 3 (tiga) jenis badak purba berikutnya, yaitu:
6. Hyracodon (Running rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang
bernama Hyracodon atau disebut juga
Running rhinoceros sebagai badak
purba ke enam muncul di muka bumi.
Hyracodon ini memiliki bentuk tubuh
mirip kuda dan berukuran sebesar
keledai.
Gambar 7. Hyracodon (Running rhinoceros).
6
Hyracodon merupakan badak purba yang memiliki kemampuan untuk berlari
tercepat diantara semua jenis badak yang pernah ada diplanet bumi, sehingga
badak ini digelari pelari cepat (Running rhinoceros).
7. Metamynodon (Marsh rhinoceros).
Kedua muncul badak purba
yang bernama Metamynodon
atau disebut juga Marsh
rhinoceros sebagai badak purba
ke tujuh muncul di muka bumi.
Metamynodon ini memiliki
bentuk tubuh mirip tapir dan
berukuran sedikit lebih besar
dari Badak Putih Afrika. Badak
purba ini memiliki cula pendek
besar dan berujung tumpul.
Gambar 8. Metamynodon (Marsh rhinoceros).
Pada akhir jaman Miocene, muncul 2 (dua) jenis badak purba berikutnya, yaitu:
8. Elasmotherium (Big-horn rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang
bernama Elasmotherium atau disebut
juga Big-horn rhinoceros sebagai
badak purba ke delapan muncul di
muka bumi.
Elamostherium ini berukuran tubuh
sebesar gajah, memiliki tanduk sangat
besar (bighorn), panjang (lebih dari 1
meter) dan berbentuk kerucut.
Gambar 9. Elasmotherium (Bog-horn rhinoceros).
ELASMOTHERIUM
Big horn Rhinoceros
7
9. Coelodonia (Wolly rhinoceros).
Berikutnya muncul badak purba
yang bernama Coelodonia atau
disebut juga Wolly rhinoceros
sebagai badak purba ke sembilan
dan merupakan badak purba yang
terakhir muncul di muka bumi.
Jenis badak purba ini merupakan
kerabat dekat dari Badak
Sumatera (karena berambut)
yang hidup pada jaman sekarang.
Bandingkan dengan badak
Sumatera pada gambar 11
dibawahnya.
Spesimen utuh Coelodonia ini diketemukan di Siberia (Negara Rusia). Yang
dimaksud dengan specimen adalah seluruh bagian tubuh hewan yang membatu..
“Apa badak-badak purba ini sekarang masih ada Mbah ?” tanya Empot dengan
antusias. “Nah, untuk jawabnya mari kita teruskan cerita ini” Jawab Mbah Nono
sambil tersenyum.
Badak-badak purba tersebut sekarang sudah punah atau tidak ada lagi. Kepunahan
badak-badak purba tersebut terjadi pada waktu 4 juta tahun yang lalu. Pada waktu itu
terjadi terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrim, yaitu terjadinya keadaan panas
yang luar biasa dan mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara dan
kutub selatan bumi kita. Akibatnya adalah terjadi kenaikan permukaan air laut yang
luarbiasa tingginya dan merendam sebagian besar permukaan bumi. Celakanya justru
seluruh tempat hidup (tempat hidup disebut juga habitat) badak purba terendam,
sehingga selain sebagian besar mati karena tenggelam dalam air, bagi yang sebagian
Gambar 10. Coedodonia.
Gambar 11. Badak Sumatera
8
kecil menyelamatkan diri ketempat yang lebih tinggipun mati kepanasan dan
kelaparan.
Kelima jenis badak yang masih hidup pada saat ini adalah jenis-jenis badak yang telah
ber evolusi sehingga mampu beradaptasi terhadap perubahan alam tersebut.
Kelimanya adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Hitam
(Diceros bicornis) dan Badak Putih (Ceratotherium simum). Dari kelima jenis
badak yang ada tersebut, 3 (tiga) jenis ada di Asia dan 2 (dua) jenis lainnya ada di
Afrika. Indonesia merupakan Negara yang memiliki jenis badak yang terkaya, yaitu
2 (dua) jenis dari 5 (lima) jenis yang ada dan terlengkap yaitu memiliki badak
bercula satu (Badak Jawa) dan bercula dua (Badak Sumatera). Kenapa demikian?,
karena Badak India yang ada di Negara India, Nepal dan Negara sekitarnya hanya
satu jenis dan bercula satu. Sedangkan Benua Afrika yang memiliki 2 (dua) jenis
badak yaitu Badak Hitam dan Badak Putih, keduanya merupakan badak bercula dua.
Badak-badak ini sebenarnya selain merupakan satwa yang bersifat soliter atau senang
hidup mengembara menyendiri dan pendiam, juga bersifat peramah dan bersahabat
terhadap sesama hewan lainnya. Hal ini terbukti badak sering nampak berdekatan
dengan Rusa, Zebra dan Jerapah di padang savanna Afrika. Perseteruan atau sikap
agresif dan menyerang hanya ditujukan terhadap hewan atau makhluk lain yang
dianggap akan menimbulkan ancaman terhadap keselamatannya seperti Gajah atau
Singa dan sejenisnya. Demikian pula apabila bertemu satwa yang dipandang akan
merebut tempat berkubang kesukaannya seperti Banteng dan Babi Hutan dan bila
perseteruan ini terjadi, biasanya akan diakhiri dengan kematian disalah satu pihak.
Sedangkan terhadap manusia badak memandang sebagai makhluk yang memberi
ancaman bagi dirinya, terutama akibat sejarah yang panjang ulah manusia yang selalu
memburu dan membunuh badak selama ini. Apabila melalui indra penciumannya
yang tajam sempat mencium bau adanya manusia, maka dia memilih untuk segera lari
menghindar, namun bila terpergok dan tidak sempat lari maka dia akan memilih diam
mematung tanpa bergerak tetapi siaga menyerang atau malah segera dengan garang
akan menyerang setiap gerakan manusia yang dihadapannya.
Demikian pula dalam penelitian untuk kepentingan dunia ilmu pengetahuan terhadap
badak pada masalalu, dilakukan dengan memburu dan membunuh badak-badak yang
ditelitinya menambah rasa permusuhan sang badak terhadap manusia. Pada masa
9
sekarang ini dengan mendirikan menara-menara pengintai yang tinggi disekitar lokasi
yang mungkin ditemukannya badak dan dengan bantuan teropong serta kamera foto
yang lensanya dapat melihat dalam jarak yang jauh namun tetap bisa melihat maupun
menghasilkan gambar yang jelas dan tajam, maka penelitian terhadap badak sudah
memberikan nuansa bersahabat kepada badak. Walaupun tetap sulit karena badak
mampu mendeteksi dari jarak yang jauh melalui indra penciumannya yang mampu
mencium bau manusia atau hewan lainnya dari jarak sampai 2 km.

vidio

vidio